Pyo-pyo's blog

Cerita yang ingin aku bagi kepada dunia.

Rabu, 03 Juni 2009

Jomblo

Salah seorang teman saya, yang memang suka sekali menulis dan punya pekerjaan sebagai penulis skenario, meminta saya mengomentari novel yang baru saja dibuatnya. Tebalnya ada 100 halaman dengan spasi single, jika dijadikan spasi double maka akan jadi 150 halaman. Sebelum mengirimkannya ke penerbit, dia selalu meminta teman-teman mengomentari novelnya. Judul novelnya adalah JP, singkatan dari Jomblo Perak.

Sebelumnya saya sudah pernah mengomentari novel teman saya sebelumnya, kalau tidak salah judulnya Diva, dan dia langsung marah setelah saya selesai mengomentarinya. Mungkin saat itu dia berpikir “Loe gak tau sih rasanya bikin ini, susah tau…” rutuknya. Salah seorang teman saya yang lainnya bilang “Loe tuh salah Pyo (panggilan dari teman-teman terdekat saya), jangan terlalu to the point gitu dong. …”. Duh…itu kebiasaan saya yang susah diilangin. Saya paling susah kalo disuruh basa-basi, takutnya nanti basi beneran (nasi kaleee…)

Sebenernya saya juga sering sekali mengomentari cerpen buatannya, dan kebanyakan komentarnya sama. Saking seringnya saya memberi komentar “pedas”, akhirnya dia jadi kebal dan selalu meminta saya untuk mengomentari tulisannya (hehehe…maap ya, kan semuanya juga buat kebaikan loe?). Lantas kenapa dia masih saja meminta saya mengomentari novelnya? Alasannya karena pekerjaan saya adalah sebagai editor. Walaupun saya sering mengomentari jelek mengenai tulisannya, tapi dia menganggap saya teliti dan memikirkan sampai ke detail. Tidak cuma alur ceritanya, tapi juga tulisannya. Salah seorang teman saya yang lainnya beranggapan bahwa apa yang saya lakukan terhadap novel teman saya ini seperti meniru apa yang pernah dosen pembimbing saya lakukan pada saat menyusun skripsi. PS: dosen pembimbing saya itu termasuk “killer”, teliti, dan detail (wah…kalau yang itu sih saya tidak tau).

Ngomong-ngomong soal novelnya yang berjudul Jomblo Perak, saya langsung tau dari mana inspirasi novel itu berasal. Lantas saya jadi terpikir kalau biasanya saya mendengar curhatannya, sekarang saya seperti membaca curhatannya. Baru satu bab saya membacanya saya langsung menyadarinya dan mengkonfirmasinya langsung. Awalnya dia memang tidak mau jujur, tapi akhirnya dia ngaku juga. Dan tebakan saya benar, walaupun itu bukan murni curhatannya, “inspired by” katanya. Tapi entah kenapa ada kejadian-kejadian yang sepertinya memang terjadi di kehidupan nyata dan dituliskan di dalam novel.

Mari kita bahas mengenai novelnya. Jujur, saya sendiri baru kenal istilah Jomblo Perak setelah membaca novel teman saya itu. Sebelumnya saya tidak pernah mendengar istilah itu. Bagi perempuan, usia 25 memang termasuk usia kritis. Orang-orang di sekitar kita sudah mulai bertanya “Sudah punya pacar belum? Kapan nyusul menikah?”. Jenis pertanyaan yang menurut saya membosankan dan malas rasanya untuk menjawabnya. Kenapa? Untuk saya sendiri, saya baru lulus kuliah pada usia 22 tahun, dan sekarang sedang sibuk mengumpulkan uang. Untuk apa? Ya...untuk masa depan lah... Masih banyak hal yang ingin saya lakukan di usia saya yang sekarang. Saya masih ingin berteman dengan siapa saja, bermain kemana saja yang saya mau tanpa perlu izin dengan orang lain (kecuali orang tua saya), saya masih ingin membahagiakan orang tua saya, masih ingin kumpul-kumpul dengan teman sampai sore dan ketawa-ketiwi gak jelas juntrungannya. Saya masih pengen melanjutkan kuliah, pergi keliling dunia dan Indonesia melihat tempat-tempat baru yang menarik, masih pengen nonton Liverpool di Anfield, pokoknya masih banyak hal lainnya.

Keluarga saya sendiri, terutama ibu saya, tidak mempermasalahkan mengenai hal tersebut. Setidaknya tidak secara terang-terangan dan secara langsung. Mungkin karena ibu saya adalah tipikal orang Jawa yang sering merasa tidak enak dengan orang lain, termasuk mungkin pada anaknya. Cuma memang sejak dua tahun yang lalu ada yang berbeda dengan ucapan selamat ulang tahun yang diucapkan oleh ibu saya. Dulu doanya begitu panjang, tapi makin kesini doanya jadi makin singkat. Pada saat saya kuliah, ibu saya selalu mendoakan supaya kuliah dan skripsi saya cepat kelar, dan cepat mendapat pekerjaan yang baik. Setelah saya bekerja, ibu saya hanya mendoakan supaya saya cepat mendapatkan jodoh yang terbaik (Duh, Mih...kenapa doanya cuma itu sih?). Ibu saya juga bukan termasuk ibu yang sering mengojok-ojok anaknya untuk buru-buru menikah (saya agak sedikit tenang karena saya masih punya seorang kakak yang juga belum menikah. Hehehe...). Ada yang bilang kalau saya ini masih anak-anak hanya karena gaya saya yang suka sekali bercanda dan cuwawa’an, jadi masih pengen senang-senang. Ih, saya agak kesal saat dibilang masih anak-anak. Tapi masa bodo ah... itu kan pendapat orang, bukan hak saya mengatur pendapat orang. Seorang teman yang lainnya malah berpendapat bahwa saya malah seharusnya menikah terlebih dahulu, baru kemudian mengejar karir. Katanya saya tipe orang yang perlu banyak bimbingan, salah satunya dari suami. Duh...saya jadi pusing mendengarnya. Satu hal yang pasti, kalau saya menikah nanti saya tidak mau mengandalkan seluruh hidup saya pada suami saya nanti.

Akhirnya saya memutuskan untuk menyerahkan semuanya pada Allah. Tidak usah terlalu bernafsu mencari, kalau sudah waktunya toh dia juga akan datang dengan sendirinya. Setiap selesai sholat saya berdoa, ”Ya Allah, semoga kau pertemukan aku dengan jodoh terbaikku, di manapun dia berada sekarang...”

Saya pernah membaca sebuah tulisan yang membahas mengenai pernikahan, yang isinya ”Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya padaMu. Agar bertambah kekuatanku untuk mencintaiMu”

Romantis sekaligus dalam sekali maknanya bukan? Saya kemudian berpikir, ”Bukankah Allah sudah menentukan jodoh dari tiap orang?”. Saya hanya perlu berusaha, dan menyerahkan sisanya pada Allah.

Tiba-tiba saya jadi ingin sekai menyanyikan lagunya Oppie yang judulnya Single Happy. Buat semua orang yang masih single, jangan sedih. Masih banyak hal yang bisa dilakukan. Buat Oppie, makasih udah nyiptain lagu ini. It’s really cool...;-P

Single Happy, By: Oppie Andaresta

Mereka bilang aku pemilih dan kesepian
Terlalu keras menjalani hidup
Beribu nasehat dan petuah yang diberikan
Berharap hidupku bahagia

Aku baik-baik saja
Menikmati hidup yang aku punya
Hidupku sangat sempurna
I’m single and very happy

Mengejar mimpi-mimpi indah
Bebas lakukan yang aku suka
Berteman dengan siapa saja
I’m single and very happy

Mereka bilang sudah saatnya karena usia
Untuk mencari sang kekasih hati
Tapi ku yakin akan datang pasangan jiwaku
Pada waktu dan cara yang indah
I’m single and very happy

Waktu terus berjalan
Tak bisa ku hentikan
Ku inginkan yang terbaik untukku

Label:

Jilbab



Belakangan isu mengenai jilbab marak beredar di masyarakat. Salah satu kasus yang sedang hangat dibicarakan berkaitan dengan pemilihan presiden tanggal 8 Juli besok. Seperti yang kita ketahui bahwa ada 3 pasang calon presiden dan wakil presiden yang berlaga kali ini. Mereka adalah Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto, Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono, serta Jusuf Kalla dan Wiranto. Saking sengitnya persaingan yang terjadi di antara keduanya, isu mengenai agamapun akhirnya dimunculkan ke permukaan. Isu ini diduga dimunculkan oleh PKS. Mereka mengagumi pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto yang memiliki istri yang menggunakan jilbab. Lalu? Kalau tidak dikatakan di depan publik tentu saja tidak aneh, tapi saat hal ini dikatakan di depan publik, tentu saja aneh. PKS termasuk partai-partai yang mendukung pasangan SBY-Boediono. Logikanya, kalau mereka mendukung pasangan SBY-Boediono, kenapa mereka malah mengatakan hal tersebut? Kalau hanya karena istri Jusuf Kalla dan Wiranto menggunakan jilbab, menurut saya alasannya sangat aneh. Jujur, pada pemilu legislatif kemarin saya mencontreng PKS, begitu juga pada pemilihan gubenur DKI terakhir. Alasannya? Karena saya belum pernah mendengar ada anggota dewan dari PKS yang terlibat kasus korupsi, penyakit yang sering sekali dialami oleh anggota dewan legislatif. Tapi pada saat SBY akan memilih calon pendampingnya, ribut-ribut dimulai, seperti ada perebutan kekuasaan dan PKS adalah salah satu pihak yang ikut ribut. Ah…hancur deh pandangan positif saya mengenai PKS. Terlebih lagi saat isu mengenai jilbab itu muncul, kok saya jadi kurang simpati lagi ya?

Bagi saya, beragama itu merupakan kebebasan yang dimiliki oleh tiap orang. Negara bahkan menjaminnya dalam UUD 1945 pasal 29. Begitu juga dengan menggunakan jilbab. Agama Islam memang mengajarkan agar seorang wanita selayaknya menutup bagian yang termasuk aurat, kecuali telapak tangan dan wajah. Saya sendiri juga baru menggunakan jilbab sejak lebaran tahun lalu. Walaupun saya sudah tau kewajiban itu sejak dulu, tapi kesadaran untuk menggunakannya baru muncul belakangan. Dulu saya berpikir kalau saya akan memperbaiki perilaku diri saya dulu sebelum akhirnya menggunakan jilbab. Takutnya saat saya sudah menggunakan jilbab, tapi ternyata kelakukan saya masih malu-maluin. Saat itu saya berpikir, ”saya memang tidak menggunakan jilbab, tapi setidaknya saya tidak melakukan hal yang dilarang oleh agama”. Sampai akhirnya saat itu datang juga. Salah seorang teman saya pernah bercerita bahwa di akhirat nanti, semua dosa manusia itu akan dihitung. Tidak ada manusia yang akan langsung masuk ke surga, walaupun jumlah kebaikkannya banyak sekali. Mendengar hal itu saya jadi takut, rasanya dosa saya sudah kelewat banyak. Sementara kebaikan yang sudah saya lakukan? Entahlah…

Sebelum saya menggunakan jilbab, saya banyak bergaul dengan teman-teman saya yang sudah menggunakan jilbab sebelumnya. Pergaulan inilah yang kemudian ikut mendorong saya menggunakan jilbab. Saya rasa kalau kita ikhlas terhadap suatu hal maka kita akan melakukan hal tersebut dengan hati senang, dan mungkin itulah yang saya rasakan sekarang.

Lalu apa kesimpulannya? Saya kok lebih suka kalau kewajiban memakai jilbab itu didasarkan karena keinginan sendiri, bukan Karena paksaan dari orang lain. Kesadaran itupun harus muncul karena rasa takwa pada Allah, bukan karena takut dukungan dari manusia lain akan hilang kalau tidak dituruti. Bukankah Allah adalah pemilik dari segala hal yang ada di dunia ini? Lantas kenapa kita masih bergantung pada manusia?

Label:

Kamis, 14 Mei 2009

Hape 3G




Kemajuan teknologi yang semakin tinggi di bidang komunikasi membuat kita bisa berbicara memalui telepon sambil melihat wajah orang yang diajak berbicara di ujung telepon beberapa waktu yang lalu melalui teknologi 3G. Sekarang teknologi handphone malah lebih pesat lagi, dan yang lagi tren sekarang adalah Blackberry.

Ngomong-ngomong soal handphone 3G, saya sempat punya handphone 3G. Mereknya adalah Siemens tipe M35i. Heran? Gak perlu, lha wong handphone 3G yang saya maksud adalah 3 generasi, bukan seperti yang saya bilang sebelumnya. Maksudnya 3 Generasi adalah saya adalah generasi ketiga yang memakai handphone itu setelah kakak saya yang nomer satu dan kakak saya yang nomer dua. Oalah…jadi hapenya lungsuran? Ya gitu deh…hehehe…

Fiturnya amat sangat sederhana, layarnya masih monokrom, cuma muat menampung 30 sms di inboxnya, ringtonenya monofonik, belum lagi phonebooknya yang cuma 100 doang. Pokoknya bener-bener standar banget deh.

Ceritanya kakak saya yang nomer satu membeli Siemens A55, setelah dia membeli yang baru, lalu si M35i itu dipake sama kakak saya yang nomer dua. Waktu itu saya merasa belum terlalu butuh punya hape, walaupun sebenernya pengen banget punya. Habis, kalo punya hape kan artinya harus beli pulsa, sementara uang jajan harian saya gak cukup. Waktu kakak saya yang nomer dua memutuskan untuk mengganti hapenya dengan Sony Ericsson K300i, si M35i dihibahkan pada saya. Makanya saya bisa bilang kalo hape yang saya punya itu bener-bener 3G alias 3 Generasi.

Si Merah, begitu saya menyebutnya karena memang warnanya yang merah, sudah tidak bisa dipakai lagi gara-gara rusak. Masa baktinya sudah habis dan dia harus pensiun menemani saya. Padahal saya suka sekali sama Si Merah. Daya tahannya paling kuat dibandingkan dengan hape merek lainnya, walaupun bentuk dan fiturnya standar. Kalau mau pake Si Merah, saya kudu ekstra sabar. Si Merah gak punya kursor naik ataupun turun, yang ada mundur ke belakang perhuruf dan kita cuma bisa nulis satu SMS doang. Kebayang dong gimana rasanya kalau mau nulis SMS? Sabaaaarrrrrr….. Si Merah itu sekarang rusak karena baterainya menggembung dan soak, jadi harus dichas tiap saat. Kalau diperbaiki biayanya bisa jadi lebih mahal daripada harga Si Merah kalau dijual. Makanya, sekarang Si Merah cuma bisa ngejogrok di meja belajar saya.

Sekarang saya pake Sony Ericsson K300i milik kakak saya yang nomer dua, karena dia sudah membeli Nokia 3230. K300i itu juga belakangan juga mulai ngadat. Dimulai dengan keypadnya yang susah buat dipencet plus joystiknya yang gerak seenak udelnya dewek! Sebagai contoh, kalau saya mau membalas SMS, yang kepencet malah tombol untuk menelepon, dan hal itu gak cuma terjadi satu kali, tapi sering!

Ternyata dari hape saya bisa belajar sabar, tapi sabar saya juga ada batasnya. Kayaknya saya kudu beli hape yang bener-bener baru deh. Enaknya model apa ya?

PS: aslinya hape saya berwarna merah, bukan kuning. Lantaran gak ada yang warna merah, yang warna kuning juga gak apa-apa deh...

Label:

Rabu, 13 Mei 2009

Football

Perempuan suka sepak bola aneh? Ah..gak juga, jaman sekarang mah sah-sah aja perempuan suka sama permainan yang kebanyakan dilakukan oleh laki-laki ini, walaupun kebanyakan masih sebatas menonton. Eh, tapi ada juga lho Piala Dunia sepak bola khusus perempuan, cuma sayangnya jarang diliput sama media massa.

Saya sendiri mulai menyukai sepak bola sejak kelas 2 SMA, lebih tepatnya pada saat pelaksanaan Piala Dunia 1998 di Prancis. Awal mulanya sih karena tersepona (eh, terpesona) dengan kegantengan dari David Beckham (wajar banget ya bo’ alesan saya kali ini, abis emang cewek kan biasanya pasti gitu), tapi lama kelamaan saya benar-benar menyukai sepak bola.

Apa cuma ngefans sama David Beckham? Ya enggak donk! Saya kemudian jatuh hati sama Michael Owen. Kenapa? Gaya mainnya waktu Inggris bermain melawan Argentina keren banget (Ps: saat itu saya masih belum ngerti aturan main sepak bola, yang penting mah dia bikin gol), walaupun akhirnya Inggris kalah 6-5 dari Argentina.

Sejak saat itu saya langsung mencari tahu, Michael Owen mainnya di klub apa ya? Dan jawabannya adalah Liverpool. Mulai dari situ deh saya ngefans berat sama Liverpool. Saya suka semua pemainnya, pelatihnya, sejarah klubnya, bahkan tagline Liverpool yang bunyinya “You’ll Never Walk Alone”. Saya juga punya wallpaper Liverpool di hape saya yang selalu saya pasang kalo lagi ada pertandingan Liverpool di televisi sebagai tanda dukungan saya terhadap Liverpool. Walaupun Michael Owen akhirnya pindah ke Real Madrid, saya tetap suka Liverpool.

Sekarang saya ngefans berat sama Steven Gerrard, kapten Liverpool. Mainnya bagus, komentator bola selalu bilang dia adalah roh permainan Liverpool, pengatur serangan, dan pemimpin di lapangan. Btw, saya jadi inget kejadian waktu saya masih sekolah, saya sering diomelin sama nyokap karena nonton pertandingan sepak bola tengah malem (apalagi kalo lagi nonton Liga Champions), sementara besok paginya saya harus sekolah. Setelah kuliah dan ada televisi di kamar, saya udah gak pernah diomelin lagi. Ya iya lah…udah gede kaleee…hehehe…

Tim favorit saya selain Liverpool? Ya Tim Nasional donk! Walaupun kondisinya lagi carut-marut seperti sekarang, walaupun diomelin sama FIFA lantaran ketua umumnya adalah narapidana, walaupun kalau habis bertanding dan kalah selalu rusuh, saya tetap cinta sama tim nasional sepak bola Indonesia.

Sayangnya saya belum pernah nonton langsung pertandingan sepak bola di stadion, paling-paling hanya dari televisi, makanya dari dulu sampai sekarang ada beberapa pertanyaan yang penasaran banget pengin saya tau jawabannya.
1. Kenapa pemain sepak bola di Liga Inggris jarang ada yang punya rambut gondrong? Ini beda dengan pemain sepak bola di Liga Italia ataupun Liga Spanyol.
2. Kalau salah satu tim sedang ditekan habis-habisan oleh tim lawan, kira-kira apa yang dilakukan oleh kiper dari tim yang menekan di depan gawangnya sendiri?
3. Para pemain di Liga Eropa kan biasanya berasal dari berbagai negara, kira-kira kalau mereka kesal lalu adu mulut, mereka marah pake bahasa apa ya?
4. Dalam tiap babak, para pemain bermain selama 45 menit. Mereka berlari kesana-kemari mengejar bola. Pertanyaannya: apa mereka gak haus? Trus kalo tiba-tiba mereka kebelet mau ke belakang gimana?
5. Apa rasanya jatuh di lapangan sepak bola? Apa badan mereka gak sakit? Ada training khusus mungkin? Mungkin gak ya setelah mereka main di lapangan, badan mereka semua biru-biru karena memar?
6. Kalo pemain Liga Eropa, selain main sepak bola mereka juga nyambi jadi model, kalo pemain Indonesia nyambi jadi apa ya?

Udah ah…kalo saya lanjutin bakal ada banyak pertanyaan lagi yang bakal muncul di kepala saya, sementara saya sendiri belum tau jawabannya. Sekarang ini saya hanya perlu menonton pertandingan dan menikmatinya sambil tetep cari informasi mengenai berbagai pertanyaan yang suka nongol tiba-tiba di kepala saya.

Syukur-syukur kalo pemainnya ganteng-ganteng (kalo niat yang ini sih gak bisa dicegah), jadi kalo permainannya membosankan setidaknya ada pemain-pemain ganteng yang bisa dipelototin.

Label:

Selasa, 12 Mei 2009

Tolooooonggg...

Salah seorang teman saya pernah bercerita pada saya suatu hari, “Waktu itu gue lagi mau main ke rumah temen gue, Rie. Sebelomnya gue mampir dulu ke pom bensin mau ngisi. Dari kantor gue yakin gue punya duit sepuluh ribu di kantong celana. Cukuplah buat isi bensin sampe rumah temen gue. Setelah diisi, waktu gue mau bayar, gue kaget!! Duit yang ada di kantong celana gue mana ya? Kok tiba-tiba gak ada? Gue panik, gimana nih? Tengki motor gue udah keburu diisi lagi!! Akhirnya gue telepon temen gue itu, tapi nomernya gak bisa dihubungi”.

“Loe telepon rumahnya dong!” ucap saya memotong cerita teman saya itu.

“Gue gak punya pulsa buat telepon, cuma ada pulsa gratisan buat ke sesama operator doang”.

Sampai di sini saya lalu berpikir, apa yang akan saya lakukan ya kalau saya sampai ada di posisinya pada saat itu?.

“Akhirnya gue telepon adeknya temen gue yang nomer teleponnya masih satu operator. Untungnya berhasil diangkat, terus gue minta tolong. Akhirnya dia dateng buat bantuin gue. Lega banget rasanya” ujar teman saya itu.

Saya pun ikut lega mendengarnya.

“Loe tau gak Rie, setelah selesai dan gue rogoh kantong celana gue, ternyata duit itu ada!!”.

Saya melongo “Loh kok bisa?”.

“Tadi tuh gue keburu panik, jadi gak sadar kalo duitnya nyelip di lipetan kantong. Padahal tadinya gue mau ngegadein hape gue ini sama yang jaga SPBU, tapi gak jadi”.

Saya memukul bahu teman saya itu “Loe gimana sih? Kok bisa sampe gitu?” omel saya.

“Namanya juga orang panik Rie, mana gue tau?”.

“Mbok lain kali tuh hati-hati kenapa sih?” saya kemudian mengomeli teman saya itu panjang lebar, sampai kemudian…

”Gue jadi mikir Rie, ini baru di dunia, saat loe masih bisa minta tolong sama orang lain, tapi gimana kalo di akhirat?”

omelan saya langsung terhenti saat itu juga

“Loe mo minta tolong sama siapa coba?”

Saya benar-benar terdiam, ucapannya seperti menohok saya dengan kerasnya. Saya sama sekali tidak terpikir ke arah sana.

“Trus gue jadi mikir Rie, apa bekal gue udah cukup? Berapa banyak kebaikan yang udah gue lakuin di dunia selama gue hidup? Apa jumlahnya sama dengan kesalahan yang gue bikin? Ato mungkin lebih sedikit mungkin?” ujar teman saya dengan nada serius.

“Wah gue gak tau, tapi yang pasti kesalahan yang loe lakukan emang tambah banyak, soalnya loe sering banget ngerjain gue!” ledek saya sambil mencoba melucu.

Teman saya itu tertawa ”Ngerjain elu mah gak salah Rie, lagipula akhirnya elo malah dapet pahala dari ledekan gue. Iya kan?” balas teman saya itu.

“Sialan!!”.

Percakapan kali itu diakhiri dengan tawa dan saling ledek satu sama lain. Hari itu saya mendapat pelajaran berharga “Apa saya sudah punya cukup bekal untuk kehidupan selanjutnya?”.

Sekarang, beberapa bulan dari kejadian itu, bude saya, kakak dari ayah saya, meninggal karena sakit stroke. Percakapan dengan teman saya itu kembali terlintas di kepala saya. Apa yang bude saya rasakan pada saat waktunya benar-benar habis dan malaikat maut menjemputnya? Apa dia merasa sudah memiliki bekal yang cukup? Hanya dia dan Tuhan yang tau semuanya.

Layaknya seorang ibu yang selalu menyiapkan bekal untuk anaknya saat akan berangkat sekolah, setelah dewasa, kita sendiri yang harus menyiapkan bekal itu sendiri.

PS: saya baru sadar tentang satu hal soal teman saya itu setelah sekian lama, LOE TELEPON TEMEN LOE DARI SPBU? ITU DILARANG TAU!!! DASAR GEBLEK!!!

Label:

Kamis, 19 Februari 2009

Cerita Dari Yogya, Part Two..

Cerita ini sebenarnya sudah lama mau diposting, cuma saking sibuknya saya di rumah alhasil tulisan ini postingnya telat. Yah…gak apa-apa deh…soalnya saya penganut paham, biar lambat asal posting. Hehehe…

Liburan panjang kemarin saya dan kakak saya yang nomor dua pergi pulang kampung. Buat saya ini sih pulang kampung yang ketiga dalam dua bulan belakangan (jadi rasanya gak se-exited yang pertama), sementara buat kakak saya yang nomor dua ini adalah pulang kampungnya yang pertama dalam tahun ini. Liburan kali ini bertepatan dengan libur Natal dan tahun baru, jadi bisa kebayang dong gimana semangatnya orang-orang untuk liburan. Itu juga yang saya lihat waktu cari tiket kereta untuk mudik di Stasiun Senen. Banyak banget yang ngantri di tempat pemesanan tiket, dan waktu saya lihat jadwal kereta, kebanyakan kereta sudah penuh sampai menjelang Natal. Akhirnya saya pesan tiket untuk keberangkatan tanggal 27 Desember, dengan tujuan Kutoarjo. Sebenarnya sih Kutoarjo itu masih jauh dari rumah nenek saya yang ada di Wates, tapi setelah mendapat kabar kalau kami bakal dijemput, akhirnya saya membeli dua tiket kereta bisnis Sawunggalih jurusan Pasar Senen-Kutoarjo. Mentang-mentang liburan harga tiket jadi ikut-ikutan naik. Menurut pengumuman yang ada, harga tiket kereta bisnis Sawunggalih dari Pasar Senen-Kutoarjo harusnya hanya Rp80.000,- tapi waktu saya bayar harganya jadi Rp120.000,-. Ampun deh…masa naiknya 50%? Bisa aja nih PT. KAI cari duitnya.


Perjalanan berjalan lancar, kakak saya yang baru beli kamera buat pulang kampung sibuk memfoto sawah-sawah yang ada di perjalanan. “Ini keren tau Rie, di Jakarta mana bisa lu liat yang beginian?” komentar kakak saya. “Lah…di Jakarta mah sawah udah diganti sama mall kali..” batin saya. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 9 jam, akhirnya kami sampai di Kutoarjo. Kami dijemput oleh salah seorang tetangga nenek saya dan ibu saya. Dari stasiun Kutoarjo, kami masih harus menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dengan menggunakan mobil untuk sampai ke rumah nenek.


Akhirnya kami sampai di rumah nenek saya, tujuan utamanya sih liburan (terutama buat kakak saya), plus mengengok bude yang sakit. Setelah bertemu dengan nenek saya, kami ke rumah Bude saya yang jaraknya hanya 200 meter dari rumah nenek saya. Bude saya itu baru saja kena stroke, ibu saya yang untuk sementara ini merawatnya bersama dengan ayah saya. Sekedar informasi, ayah dan ibu saya berasal dari kampung yang sama. Rumah Bude saya sekarang adalah rumah nenek saya dari pihak ayah, yang berarti rumah tempat ayah saya besar. Terus terang saya suka iri jika mendengar cerita teman-teman. Mereka bisa punya dua tempat yang dikunjungi pada saat pulang kampung, rumah dari pihak ayah dan ibunya. Sementara saya cuma punya cerita dari satu tempat saja. Tapi mungkin ini yang namanya jodoh, ibu saya berjodoh dengan ayah saya yang notabene adalah tetangganya sendiri. Saya jadi ingat, beberapa waktu yang lalu, seorang teman saya, sesama mantan karyawan Ganeca menikah. Saya kaget waktu tahu siapa calonnya. Ternyata teman kami sendiri. Dulu mereka satu divisi, duduknya malah cuma berjarak kurang dari dua meter! Lagi-lagi namanya juga jodoh… Kalau saya menikah nanti, semoga saya bertemu dengan orang yang asalnya tidak sama dengan saya, jadi saya bisa mengunjungi daerah lain. Hehehe…


Pergi ke Yogya tidak lengkap tanpa mengunjungi Malioboro. Yup…apa artinya ke Yogya kalau tidak ke Malioboro? Kami pergi ke Malioboro dua kali. Yang pertama memang punya tujuan untuk shopping dan beli oleh-oleh, yang kedua beli oleh-oleh lagi plus plesiran ke daerah wisata, seperti Keraton Yogyakarta, Taman Sari, dan Benteng Vredeburg.


Dari wates kami naik kereta Prambanan Ekspress (keretanya mirip-mirip KRL AC Kota-Bogor) dari stasiun Wates. Harga tiketnya tujuh ribu rupiah. Penuhnya hampir mirip sama KRL Ekonomi Kota-Bogor. Mungkin karena rutenya yang lumayan jauh yaitu Kutoarjo-Solo Balapan, makanya yang naik juga bejubelan. Kami memutuskan untuk naik kereta ini karena jarak tempuhnya yang cuma setengah jam ke kota Yogya, sementara kalau menggunakan mobil bisa sampai satu jam perjalanan. Turun di Stasiun Tugu, kami cuma perlu jalan sedikit atau kalau mau terasa seperti turis bisa naik becak atau andong untuk sampai di Malioboro.


Kakak saya punya hobi belanja, kalau dia belanja bisa makan waktu sampai berjam-jam, dan benar dugaan saya. Hampir semua barang diliriknya, belum lagi kalau barang yang dia cari belum ketemu, kami bisa balik lagi ke tempat yang semula. Kalaupun sudah berhenti di sebuah kios, dia bisa memilih barang lamaaaaaaaa (saya tekankan huruf “a” nya yang banyak, karena memang lama sekali, hampir satu jam untuk memilih, menimbang, dan akhirnya memutuskan untuk membeli sebuah barang). Kaki saya rasanya mau copot kalau menemani kakak saya belanja.


Layaknya kebiasaan yang dimiliki oleh keluarga kami, setiap pulang kampung, kami selalu nyekar terlebih dahulu ke makam keluarga. Di situ ada banyak kuburan. Kuburan kakek nenek, kakek nenek buyut, om, sepupu, dan keluarga yang lainnya. Setiap nyekar, sambil menabur kembang, ibu saya selalu cerita mengenai silsilah keluarga kami yang super duper njlimet. Sampai sekarang saya tidak pernah bisa hafal susunan kekerabatan di keluarga luas saya. Kayaknya saya perlu membuat pohon kekerabatan (seperti yang saya pelajari waktu ikut mata kuliah Organisasi Sosial dan Sistem Kekerabatan) deh, masa anak antrop gak ngerti susunan kekerabatannya sendiri? Malu ah…


Di rumah nenek, saya dan kakak saya sempat bermain sepeda. Norak ya? Emang. Habis di Jakarta lahannya sempit, mau main sepeda juga kurang asik. Kalau di desa kan jalanannya masih lengang, jadi enak buat main sepeda. Sejak dari Jakarta, kakak saya ngidam banget pengen main sepeda ke sawah. Akhirnya kami main sepeda di jalanan dekat sawah. “Keren ya Rie, kayak di film-film” kata kakak saya sambil mengayuh sepedanya meninggalkan saya yang keteteran di belakang. Saya sih cuma ingat film Korea Endless Love yang diperankan Song Hye Gyo, yang ada adegan tokoh utamanya pergi ke sekolah naik sepeda melewati sawah di pinggir jalannya. Ngomong-ngomong soal sepeda, terakhir kali saya naik sepeda adalah waktu saya SD, itu berarti sudah bertahun-tahun saya tidak naik sepeda. Saya memang bisa naik sepeda, tapi saya kesulitan ketika naik pertama kali, waktu jalan pun kadang saya kesulitan mengendalikan sepeda itu. Kalau sudah jalan, jangan suruh saya berhenti karena itu bisa jadi masalah besar buat saya. Ketika akan berhenti saya rasanya seperti mau menabrak apapun yang ada di depan saya. Saya bahkan sempat terjatuh dan hasilnya nyilu-nyilu sampai beberapa hari. Kayaknya yang dibilang sama Lusi bener deh, saya memang punya masalah keseimbangan. Buktinya saya sering kesandung atau keserimpet tiba-tiba dan tanpa sebab.


Tanggal 3 Januari 2009, saya dan kakak saya pulang ke Jakarta, dengan membawa dua kardus tambahan yang bikin bawaan jadi tambah berat. Pulang-pulang saya langsung tidur gara-gara ngantuk berat plus rada masuk angin karena naik kereta malam. Cerita kali ini asik juga, lumayan buat penghilang stres dari rutinitas kehidupan Jakarta.


PS: sebenernya mau nambahin poto waktu liburan, tapi kakak saya menghilangkan semua gambar yang ada di kameranya. Haduh….gimana sih? Gak bisa mejeng deh…

Label: ,

Minggu, 11 Mei 2008

Inspired by .....

Cerita "friends forever" diinspirasi dari curhatan temen yang lagi stres ngerjain skripsi (lucita) dan dari pengalaman langsung melihat orang yang kayaknya membutuhkan pendidikan inklusi. Suatu hari di semester 8, saat kita semua stres memikirkan topik apa yang enak dijadiin topik skripsi pas kuliah seminar, seperti biasa...trio Pyo kumpul-kumpul di kantin sastra (mungkin lantaran karena kita bosen sama kantin FISIP) lalu meluncurlah pembicaraan mengenai topik terlarang itu (kita biasa menyebutnya dengan "you know what"). "Kayaknya gue mau bikin tentang pengobatan deh" ucap gue. "Gue kan ngambil spesialisasi kesehatan". "Duh...loe tuh cocok banget sama MU (pembimbing gue)" timpal Lucita.


"Kalo gue mo bikin tentang proses kreatif penulis novel ah...” timpal Bolly, sambil meneguk es teh manis favoritnya. “Wah...asik tuh!! Siape penulisnya? Gue ikutan dong kalo loe mo wawancara Ayu Utami” sambung Lucita. “Gue mau sama **********” sambung Bolly. Gue dan Lucita cuma terdiam, ********** itu siapa ya? kok kita belom pernah denger?. “salah satu penulis teen lit,” Bolly meneguk habis es teh manis favoritnya. Teen Lit? “Apaan tuh?” tanya Lucita lagi. “Adiknya Chic Lit kali lus...” bales gue. Kami sama-sama saling mengangguk, walaupun sebenarnya sama-sama masih bingung. “loe mau tentang apa?” tanya Bolly. Lucita cuma menerawang langit yang mulai gelap karena mendung. “mungkin tentang pendidikan inklusi” kata Lucita sambil meneguk kopi favoritnya. “apaan tuh?” gantian gue dan Bolly yang bertanya. “itu tuh...tentang pendidikan yang menggabungkan antara anak-anak yang normal dengan anak-anak dengan kebutuhan khusus”. Saat itu yang ada di pikiran gue cuma satu, emang ada ya sekolah yang kayak gitu? “ya ada lah...buktinya gue mau bikin skripsi tentang itu” kata Lucita dengan nada rada sewot, karena dia pikir gue meragukan kemampuan otaknya yang memang encer.
“gimana sekolahnya tuh? bukannya cara pengajaran mereka itu berbeda?” tanya gue dengan nada bingung. “itu dia yang menarik...”kata Lucita dengan nada dibuat serius sehingga gue dan Bolly jadi tertarik. “jadi mereka selalu didampingi oleh pengawas. mereka juga diajari untuk beradaptasi lebih dari anak-anak yang normal” Lucita memulai ceramahnya. “oh...gitu...” sekarang gue dan Bolly yang mengangguk, tapi lagi-lagi (jujur) kita berdua masih bingung. Hari itu juga kita mendapatkan tiga topik skripsi untuk tiap orang, yaitu pengobatan, teen lit, dan pendidikan inklusi (dan kami yakin kalo kami bakal lulus dengan topik tersebut!)

Pengalaman berikutnya diperoleh berdasarkan pengamatan langsung. Suatu hari (tepatnya hari sabtu, tanggalnya lupa..) gue berkunjung ke rumah besannya nyokap, alias ke rumah keluarganya kakak ipar gue yang ada di Tanah Abang. Kakak ipar gue punya ponakan, namanya Atilla. Dialah yang jadi sumber inspirasi gue. Ada yang tidak normal dengan penglihatannya, dia tidak bisa melihat secara jelas, tapi dia bisa melihat warna jika didekatkan ke matanya. Sesepengetahuan gue, dia sekolah di sekolah kebutuhan khusus di daerah Lebak Bulus. Tiba-tiba aja gue jadi kepikiran topik skripsi Lucita, pendidikan inklusi, gimana kalo seandainya Atilla sekolah di sekolah inklusi??
Cuma ada satu komentar gue, menarik juga nih kalo dijadiin cerita. Latar belakangnya? berhubung gue gak suka cerita dengan latar belakang kota (tapi masalahnya gue cuma tau lingkungan kota. secara...gue lahir sama gede di kota..), jadilah gue harus berkompromi dengan diri sendiri. Latar belakang kota gak apa-apa, tapi JANGAN terlalu mewah. Kehidupan kota kan juga ada yang miris dan gak semuanya senang-senang. Kehidupan kota Jakarta di pemukiman padat penduduk, dengan tingkat ekonomi menengah kebawah akhirnya jadi latar belakang cerita gue.

So...i finally got some topic for my story...

Tengkyu buat orang-orang yang sudah menjadi inspirasi buat gue. You’re trully inspiring me...

Label:

Sabtu, 10 Mei 2008

friends forever...

Adalah salah satu proyek cerita gue yang belom kelar sampe sekarang (masih dalam proses). Ceritanya tentang persahabatan dua orang anak yaitu Kimi dan Mika (nama Kimi diambil dari nama pembalap F1 favorit gue, Kimi Raikonen, dan Mika, salah satu pembalap F1 lainnya di F1 yaitu Mika Hakinen). Mereka sama-sama anak tunggal di keluarganya masing-masing. Mereka tinggal di tengah kota Jakarta, tepatnya pemukiman padat penduduk yang ada di tengah kota. Pertemanan yang terjalin berawal karena Kimi membela Mika yang diusili oleh anak-anak yang lain. Sejak saat itu mereka berteman hingga mereka besar.
Persahabatan mereka diuji dengan sebuah musibah. Musibah yang kemudian merubah hidup keduanya. Mika tertabrak sebuah mobil hingga matanya cacat. Kimi kemudian merasa bersalah, karena dialah yang meminta Mika untuk mengambil bola yang sedang mereka mainkan. Keadaan menjadi tambah rumit saat Kimi melihat siapa yang menabrak Mika, seorang pejabat daerah yang ternyata berselingkuh dengan ibunya.
Kimi menjadi sosok yang pendiam, selalu merasa bersalah pada Mika, dilain pihak dia harus bersikap pura-pura tidak tahu apa-apa di depan ayahnya. Sementara Mika tetap menjadi anak yang ceria dan bersemangat.
Keadaan menjadi sulit bagi Kimi saat dia tahu bahwa Mika mau melanjutkan sekolahnya lagi. Bukan di sekolah anak-anak berkebutuhan khusus, tapi bercampur dengan anak-anak normal lainnya di sekolah inklusi. Dalam hati Kimi merasa senang sekaligus malu dengan keadaan tersebut. Mika yang semenjak kecelakaan itu menjadi menderita malah menjadi sosok yang sangat bersemangat untuk melanjutkan sekolah, sementara dirinya yang normal malah terpuruk dengan rasa penyesalan terhadap Mika dan rasa marah yang membuncah pada ibunya. Disisi lain dia menentang keputusan Mika untuk sekolah bercampur dengan anak-anak normal alinnya. Kimi menyangsikan kesanggupan Mika untuk dapat melewati semua masalah.
"Kim, gue tau loe khawatir...tapi gak apa-apa kok! Hidup ini udah susah, jangan dibikin jadi tambah susah...gue cuma mau bikin nyokap gue dan almarhum bokap yang ada di surga sana bangga sama anak semata wayangnya" kata Mika dengan mantap.
Sikap Kimi yang berubah menjadi pembangkang dan sulit diatur, konflik dalam keluarganya, perjuangan Mika mendapatkan haknya untuk mengenyam pendidikan, dan berbagai masalah lainnya jadi latar belakang cerita ini.

Sahabat adalah dia yang menghampiri, saat semua orang menjauh....

Label: